Kasus Penceraian Tasya Farasya dan Ahmad Assegaf, Praktisi Lintrik MS Alfa: Ada Ujian Besar
Baru-baru ini kasus perceraian beauty influencer sekaligus pengusaha, Tasya Farasya, dengan suaminya Ahmad Assegaf tengah menjadi sorotan publik.
Hal ini menyangkut urusan rumah tangga, gugatan cerai tersebut pun disertai tuduhan serius mengenai dugaan penggelapan dana perusahaan yang bernilai fantastis.
Disampaikan MS Alfa, seorang praktisi lintrik yang dikenal kerap memberikan pandangan spiritual terhadap isu-isu publik. Ia menilai kasus ini bukan sekadar persoalan hukum dan ekonomi, tetapi juga mencerminkan dinamika energi dalam sebuah hubungan.
Menurut MS Alfa, inti dari persoalan ini adalah hilangnya kepercayaan. “Setiap hubungan, baik rumah tangga maupun bisnis, berdiri di atas pondasi kejujuran. Kalau kejujuran goyah, maka energi dalam hubungan itu ikut runtuh. Saya melihat di kasus ini, ada ujian besar terkait kepercayaan yang sudah lama terkikis,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kasus dugaan penggelapan dana yang menyeret nama Ahmad Assegaf seakan menjadi manifestasi nyata dari energi ketidakselarasan. Tak hanya itu, Publik juga banyak menyoroti tuntutan nafkah Rp 100 yang diajukan Tasya. MS Alfa menilai angka itu sarat makna simbolis.
“Seratus rupiah itu bukan soal materi. Itu simbol pengosongan energi nafkah. Artinya, selama ini pihak perempuan merasa tidak mendapatkan hak lahir dan batin secara utuh. Ini pesan spiritual yang kuat: kalau hal sekecil itu saja tidak bisa dijaga, bagaimana dengan hal-hal besar?” jelasnya.
Tasya hadir di persidangan dengan blazer kuning yang mencuri perhatian. Bagi MS Alfa, pilihan warna tersebut bukan kebetulan. “Kuning itu warna keberanian, optimisme, dan penyembuhan. Dengan tampil begitu, Tasya sedang menunjukkan dirinya siap menutup lembaran lama dan membuka jalan baru dengan energi yang lebih terang,” ujarnya.
MS Alfa mengingatkan, kasus ini bisa membawa dampak luas, bukan hanya pada pasangan tersebut, tetapi juga pada lingkaran bisnis dan keluarga besar.
“Energi negatif seperti kekecewaan, rasa dikhianati, dan amarah bisa menular. Kalau tidak segera diselesaikan dengan jernih, efeknya bisa merembet ke karier, bisnis, bahkan kesehatan. Karena itu, jalur hukum sebaiknya ditempuh, tapi jangan lupa jalur spiritual: mawas diri, introspeksi, dan doa,” katanya.
MS Alfa menekankan bahwa kasus ini menjadi pelajaran publik bahwa harta dan popularitas tidak menjamin ketenangan rumah tangga.
“Pesan spiritual yang bisa diambil adalah setinggi apapun nama dan usaha kita, kalau tidak dibarengi integritas, cepat atau lambat semuanya bisa runtuh. Saya harap kedua belah pihak bisa mendapatkan kejelasan dan kedamaian, meski harus berpisah,” pungkasnya.
Sidang lanjutan kasus Tasya Farasya dan Ahmad Assegaf dijadwalkan pada 8 Oktober 2025 dengan agenda pembuktian. Publik menanti, apakah dugaan penggelapan dana akan terbukti di pengadilan atau masih ada ruang penyelesaian lain di luar meja hijau.




