Simak! Ini Profil Teguh Santosa yang Disebut-sebut Bakal Nyalon Ketua PWI Pusat

Teguh Santosa saat menyampaikan pandangan dalam Belt and Road Journalists Forum (BRJF) 2025 di Ganzhou, Tiongkok, Sabtu (19/7/2025). Foto: Istimewa.

Teguh Santosa disebut-sebut bakal nyalon Ketua Umum (Ketum) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Teguh adalah sosok wartawan senior yang lama berkiprah di tubuh organisasi pers, ia sebagai figur pemersatu di tengah konflik berkepanjangan yang mendera PWI sejak dua tahun terakhir ini.

Diketahui, PWI sebentar lagi akan menggelar “Kongres Persatuan” di Jakarta pada akhir Agustus 2025. Kongres ini digelar atas dasar kesepakatan damai antara dua kubu yang bertikai: kubu Hendry Ch. Bangun yang terpilih sebagai Ketum dalam Kongres PWI di Bandung, September 2023, dan kubu Zulmansyah Sekedang yang menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) pada Agustus 2024.

Dengan demikian, hal ini sebagai bentuk koreksi terhadap kepemimpinan Hendry. Kesepakatan damai itu disaksikan langsung oleh Ketua Dewan Pers, Prof. Komaruddin Hidayat, Juni lalu. Menjelang kongres ini, sejumlah nama kembali mencuat. Selain Hendry dan Zulmansyah, ada pula nama Atal S. Depari, Ketum PWI periode 2018–2023, serta Akhmad Munir dari jajaran Dewan Kehormatan PWI versi Zulmansyah.

Namun kehadiran nama Teguh Santosa membawa arus baru. Bukan sekadar pelengkap, Teguh dinilai sebagai alternatif kuat yang diharapkan mampu menjembatani pihak-pihak yang berseteru.Teguh bukan orang baru di dunia pers, dirinya pernah menjabat Ketua Bidang Luar Negeri PWI Pusat (2013–2018) dan Anggota Dewan Kehormatan (2018–2020). Ia mengundurkan diri dari Dewan Kehormatan setelah dipercaya memimpin Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).

“Pesan yang kami terima dari pengurus dan anggota PWI di daerah sangat jelas: mereka ingin sosok yang bisa menyatukan dan mengembalikan marwah organisasi, Dan mereka melihat Bang Teguh sebagai figur ideal,” kata Ari Rahman, Ketua Harian JMSI, di Batam, Rabu, 30 Juli 2025.

Menurut Ari, Teguh adalah “paket lengkap”: wartawan utama, pemegang Press Card Number One (PCNO), dan ketua panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2016 yang disebut-sebut sebagai salah satu HPN terbaik. Ditanya soal posisi Teguh di JMSI jika terpilih sebagai Ketum PWI, Ari menjawab singkat.

“Sudah ada mekanisme. Sekarang yang utama, selamatkan PWI. Yang paling pas, Bang Teguh untuk persatuan,” pungkas dia.

Berikut profil Teguh Santosa:

Dilansir dari teguhsantosa.com, Teguh lahir di Medan, Sumatera Utara, Indonesia, pada 30 Juli 1975, Teguh Santosa adalah pendiri Kantor Berita Politik Republik Merdeka atau RMOL.

Saat menjadi mahasiswa di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Padjajaran (Unpad), Teguh bergabung dengan Lembaga Penerbitan Mahasiswa Polar dan memimpin lembaga itu pada periode 1997-1999.

Teguh Santosa mendapatkan beasiswa International Fellowships Program (IFP) dari Ford Foundation untuk melanjutkan pendidikan S-2 di University of Hawaii at Manoa, Honolulu, Amerika Serikat pada tahun 2007 sampai 2009. Saat menetap di Hawaii, Teguh dipercaya sebagai Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias) Chapter Hawaii.

Teguh menyelesaikan pendidikan doktoral di Jurusan Hubungan Internasional Unpad, dan menulis disertasi mengenai prospek perdamaian dan reunifikasi Korea Utara dan Korea Selatan.

Selain menulis “Di Tepi Amu Darya” yang diangkat dari perjalanannya ke perbatasan Uzbekistan dan Afghanistan, Teguh juga menulis buku “Perdamaian yang Buruk, Perang yang Baik” dan “Buldozer dari Palestina” yang diangkat dari wawancaranya dengan sejumlah dutabesar negara sahabat di Jakarta.

Perjalanan Karier di Dunia Media Indonesia

Setelah menyelesaikan pendidikan di Unpad pada tahun 2000, Teguh bekerja di harian Rakyat Merdeka (Jawa Pos Group). Kurang dari setahun sejak bergabung dengan koran ini Teguh mendapat kepercayaan untuk meliput perang Afghanistan pada bulan Oktober sampai November 2001. Ia berencana memasuki Afghanistan dari Termez, kota kecil di perbatasan Uzbekistan dan Afghanistan. Kisah liputan di Termez telah diterbitkannya dalam sebuah buku, “Di Tepi Amu Darya“.

Pada Februari dan Maret 2003 Teguh Santosa berada di Damaskus, Suriah, untuk memantau ketegangan yang berujung perang di Irak. Pada April 2003, Teguh Santosa untuk pertama kali Teguh Santosa berkunjung ke Pyongyang, Republik Rakyat Demokratik Korea atau Korea Utara, sebagai utusan putri Proklamator Bung Karno, Rachmawati Soekarnoputri.

Pada tahun 2013 sampai 2018, Teguh Santosa dipercaya sebagai Ketua bidang Luar Negeri Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat. Pada posisi itu Teguh aktif membangun hubungan PWI dengan organisasi wartawan di beberapa negara, seperti Korea Selatan, Republik Rakyat China, dan Mongolia, serta merevitalisasi peran PWI di Confederation of ASEAN Journalists (CAJ). Ia dipercaya sebagai Wakil Presiden CAJ dari tahun 2017 sampai 2018. Pada periode 2018-2023 Teguh Santosa menjadi salah seorang anggota Dewan Kehormatan PWI bersama sejumlah wartawan senior lain, yakni Karni Ilyas, Wina Armada Sukardi, Asro Kamal Rokan, Sasongko Tedjo, Suryopratomo, Raja Pane, dan Rosianna Silalahi. Dewan Kehormatan PWI Pusat periode 2018-2023 dipimpin Ilham Bintang.

Teguh Santosa ikut mendirikan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) pada 2017, dan menjadi Ketua Umum pertama organisasi perusahaan media itu. Karena kesibukan menjadi Wakil Presiden CAJ pada tahun 2018 ia memilih mengundurkan diri dari jabatannya. Pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2020 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Teguh bersama sejumlah pemilik dan pengelola media siber dari 21 provinsi di Indonesia mendirikan Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI).

Pada tahun 2019 Teguh Santosa mulai fokus membesarkan Republik Merdeka Group yang telah berkembang menjadi sebuah jaringan media siber nasional dan memiliki kantor cabang di setidaknya 20 provinsi di Indonesia.

Kiprah di Dunia Internasional

Teguh memiliki ketertarikan tinggi pada isu-isu internasional. Ia meliput berbagai peristiwa di sejumlah negara lain, seperti Turki (2003, 2005), Republik Rakyat China (2003, 2012 sampai 2019), Lebanon (2005), Jerman (2005), Amerika Serikat (2008), Federasi Mikronesia (2009), Maroko (2010, 2011, 2014), Rusia (2011, 2013, 2017), Yaman (2013), Korea Selatan (2013 sampai 2019) Korea Selatan Prancis (2014), Italia (2014), Vietnam (2018) Venezuela (2018, 2021, 2022), Mongolia (2019), dan Kuba (2019).

Ia diundang menjadi pembicara dalam diskusi internasional HAM di Marrakesh, Maroko pada November 2014 . Pada Maret 2019 Teguh menjadi salah seorang pembicara kunci dalam Konferensi Wartawan Dunia yang diselenggarakan Asosiasi Wartawan Korea (JAK) di Seoul untuk membahas perdamaian di Semenanjung Korea. Dalam konferensi ini Teguh menyampaikan pentingnya wartawan menanggalkan “kacamata kombatan” dalam melihat konflik di Semenanjung Korea. Teguh menyampaikan pokok-pokok pikirannya dalam melihat konflik di Semenanjung Korea berangkat dari pengalamannya berkunjung secara intens ke Korea Selatan maupun Korea Utara.

Sebelumnya pada tahun 2011, 2012, dan 2023, Teguh Santosa diundang untuk berbicara di Komisi IV PBB di New York sebagai petisioner masalah Sahara Barat.

Selain sebagai Ketua bidang Luar Negeri PWI Pusat, Teguh juga pernah menjadi Ketua bidang Luar Negeri PP Pemuda Muhammadiyah periode 2012-2017. Dan kini menjadi anggota Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional dan Wakil Ketua Dewan Pakar Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.

Dari tahun 2009 dan 2022 Teguh menduduki jabatan Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara, dan tahun 2022 ditetapkan sebagai ketua dari organisasi yang didirikan Rachmawati Soekarnoputri itu. Sementara di tahun 2010 Teguh mendirikan Perhimpunan Persahabatan Indonesia Maroko dan menjadi presiden sejak sekarang.

Pada bulan Oktober 2015, mewakili Rachmawati Soekarnoputri, Teguh menyerahkan “Star of Soekarno” untuk Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kepada Presiden Presidium Majelis Tertinggi Rakyat Korea, Kim Yong Nam.

Pada bulan Mei 2018 Teguh diundang Komisi Pemilihan Umum Venezuela untuk memantau jalannya pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden di negara itu. Sebelumnya pada 2009 ia juga pernah dilibatkan sebagai observer pada pemilu di Federasi Mikronesia, dan pada 2011 menjadi pemantau referandum untuk konstitusi baru di Maroko.

Di bulan November 2021 Teguh Santosa kembali diundang untuk memantau mega-pemilu di Uzbekistan. Usai memantau mega-pemilu, Teguh diundang Kementerian Luar Negeri Venezuela untuk berbicara di Konferensi Venezuela-ASEAN.

Di bulan Februari 2022, Teguh Santosa kembali diundang ke Venezuela. Kali ini dia diminta berbicara mengenai kaitan media dan revolusi dalam peringatan Kudeta 1992. Dan di tahun 2024 menjadi salah seorang partisipan aktif dalam Seminar Antifasis Internasional di Caracas.

Kiprah sebagai Akademisi

Profesi lain yang dijalani Teguh Santosa adalah dosen. Ia mengajar di Jurusan Hubungan Internasional, FISIP,  Ciputat. Sebagai dosen mata kuliah Politik Asia Timur ia kerap menyampaikan pandangannya mengenai konflik dan prospek perdamaian di kawasan.

Teguh juga mengajar di London School of Public Relations (LSPR) dan menjadi Wakil Rektor IV Universitas Bung Karno (UBK) pada 2015-2019.

Tutup