Minyak Dunia Tembus US$108, RI Siaga

Minyak Bumi. Ilustrasi

Lonjakan harga minyak dunia kembali mengguncang stabilitas ekonomi global seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel. Harga minyak mentah yang telah menembus level US$108 per barel memicu kekhawatiran baru terhadap lonjakan inflasi, khususnya di negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Tekanan tersebut tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga berpotensi merambat ke berbagai sektor lain, mulai dari transportasi hingga kebutuhan pokok masyarakat. Kondisi ini menempatkan banyak negara dalam posisi rentan terhadap gejolak ekonomi global yang semakin tidak menentu.

Pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, Edhie, menilai Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk meredam dampak tersebut. Salah satu penopang utama adalah cadangan devisa yang mencapai sekitar US$151,9 miliar.

“Cadangan devisa menjadi bantalan penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan merespons tekanan eksternal,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen strategis untuk menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan subsidi energi dinilai masih menjadi langkah efektif untuk menahan dampak langsung kenaikan harga minyak terhadap masyarakat.

Di sisi lain, Bank Indonesia mengambil langkah antisipatif melalui pelonggaran kebijakan makroprudensial guna menjaga likuiditas di pasar. Dorongan penurunan suku bunga kredit ke kisaran 8,80% juga diharapkan mampu menjaga aktivitas pembiayaan, terutama bagi sektor usaha dan UMKM.

Menurut Edhie, risiko global semakin meningkat seiring potensi terganggunya distribusi energi di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu titik vital dalam perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berdampak luas terhadap pasokan dan harga energi global.

Meski dihadapkan pada tekanan eksternal, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis sebagai negara dengan kekuatan ekonomi menengah. Kinerja perdagangan yang relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir turut menjadi faktor penopang dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional.

Di dalam negeri, percepatan transformasi digital juga memberikan kontribusi positif terhadap ketahanan ekonomi. Adopsi sistem pembayaran berbasis digital seperti QRIS menunjukkan peningkatan signifikan, mencerminkan efisiensi transaksi dan perluasan inklusi keuangan.

Namun demikian, Edhie mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap energi impor masih menjadi tantangan jangka panjang. Tanpa langkah transformasi yang konkret, Indonesia akan tetap rentan terhadap fluktuasi harga energi global.

“Percepatan transisi energi dan penguatan sektor domestik menjadi kunci agar kita tidak terus terpapar gejolak eksternal,” tegasnya.

Ia menambahkan, sinergi yang konsisten antara kebijakan fiskal dan moneter akan menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan strategi yang tepat, Indonesia dinilai tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berpeluan

Tutup