Mendikdasmen Dorong Matematika Diajarkan Lewat Bermain

Abdul Mu’ti

Abdul Mu’ti mengungkapkan keprihatinannya terhadap metode pembelajaran matematika di tingkat pendidikan dasar yang dinilai belum sesuai dengan tahap perkembangan anak. Ia menilai, pendekatan yang terlalu menekankan pada perhitungan justru berpotensi menghambat pemahaman dasar siswa.

Dalam pandangannya, pembelajaran matematika untuk anak usia dini, seperti di taman kanak-kanak hingga kelas awal sekolah dasar, seharusnya difokuskan pada penguatan logika berpikir, bukan langsung pada penguasaan rumus dan hitungan yang kompleks.

“Di fase awal, yang terpenting adalah membangun logika anak. Karena itu, proses belajar seharusnya dikemas seperti bermain, bukan langsung dibebani hitungan atau rumus,” ujar Abdul Mu’ti saat menghadiri peluncuran program penguatan literasi dan numerasi nasional di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Ia membandingkan dengan praktik pendidikan di Australia yang lebih menekankan pendekatan bermain dalam mengenalkan konsep matematika. Metode tersebut dinilai mampu membantu anak memahami pola berpikir logis secara alami tanpa tekanan akademik yang berlebihan.

Menurutnya, kondisi di Indonesia justru menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang sudah mengenalkan konsep seperti perkalian dan pembagian sejak usia dini, bahkan ketika anak belum siap secara kognitif.

“Kalau terlalu cepat dikenalkan pada konsep yang belum waktunya, anak bisa merasa kesulitan. Akhirnya, mereka justru menganggap matematika sebagai pelajaran yang menakutkan,” katanya.

Ia mengingatkan, pengalaman belajar yang kurang menyenangkan pada tahap awal dapat meninggalkan kesan jangka panjang. Hal ini bahkan memunculkan stigma di kalangan pelajar bahwa matematika adalah mata pelajaran yang sulit dan harus dihindari.

Fenomena tersebut, lanjutnya, tercermin dari anggapan populer yang menyamakan kata “math” dengan “dead”, sebagai simbol bahwa pelajaran tersebut dianggap ‘mematikan’ bagi sebagian siswa.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan program kolaborasi nasional yang melibatkan berbagai pihak guna memperkuat literasi dan numerasi di sekolah.

Program ini dirancang sebagai proyek percontohan yang akan diterapkan di sejumlah daerah dengan karakteristik berbeda. Wilayah yang terlibat antara lain Kota Medan dan Pematangsiantar di Sumatera Utara, Kabupaten Batang Hari di Jambi, Kabupaten Tegal di Jawa Tengah, serta Kabupaten Sikka dan Kabupaten Ende di Nusa Tenggara Timur.

Melalui program tersebut, pemerintah akan mendorong penerapan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang menempatkan pemahaman konsep sebagai prioritas utama, bukan sekadar hafalan atau kemampuan menghitung cepat.

Sebanyak lebih dari 500 sekolah dan sekitar 1.500 guru akan dilibatkan dalam tahap awal implementasi. Para pendidik akan dibekali metode pembelajaran yang lebih adaptif, kreatif, dan menyenangkan bagi siswa.

“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak tidak hanya bisa menghitung, tetapi juga memahami makna di balik konsep matematika. Dengan begitu, mereka bisa belajar dengan lebih percaya diri dan tanpa rasa takut,” tutup Abdul Mu’ti.

Tutup