Keracunan Massal MBG pada Siswa, BGN Tanggung Biaya Pengobatan
Insiden keracunan massal yang menimpa puluhan pelajar di kawasan Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, memicu respons cepat dari pemerintah. Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan menghentikan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2 untuk waktu yang belum ditentukan, menyusul dugaan pelanggaran standar keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Peristiwa tersebut terjadi setelah para siswa mengonsumsi makanan yang disediakan dalam program MBG pada Jumat (3/4/2026). Sedikitnya 60 siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan seperti mual, diare, dan nyeri perut, sehingga harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan bertanggung jawab penuh terhadap para korban, termasuk menjamin seluruh biaya pengobatan hingga pulih.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas kejadian ini. BGN memastikan seluruh biaya perawatan siswa yang terdampak akan ditanggung sepenuhnya,” ujar Nanik dalam pernyataan resminya.
Berdasarkan hasil investigasi awal, ditemukan sejumlah ketidaksesuaian dalam fasilitas dapur penyedia makanan. Mulai dari tata letak hingga sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dinilai belum memenuhi standar keamanan pangan yang semestinya diterapkan dalam program skala nasional.
Kronologi kejadian bermula pada Kamis (2/4/2026) sore, ketika pihak sekolah melaporkan adanya siswa yang menunjukkan gejala keracunan usai mengonsumsi menu yang terdiri dari spaghetti bolognese, bola daging, telur orak-arik tofu, sayuran, dan buah stroberi.
BGN menduga faktor utama penyebab insiden ini adalah penurunan kualitas makanan akibat jeda waktu yang terlalu lama antara proses memasak dan distribusi. Kondisi tersebut berpotensi membuat makanan tidak lagi layak konsumsi saat diterima oleh siswa.
“Kami menemukan indikasi bahwa waktu distribusi menjadi faktor krusial. Ini akan menjadi fokus evaluasi kami ke depan agar tidak terulang,” tambah Nanik.
Meski demikian, kondisi para siswa dilaporkan terus membaik setelah mendapatkan penanganan medis. BGN memastikan seluruh korban dalam pengawasan tenaga kesehatan hingga benar-benar pulih.
Sebagai langkah lanjutan, BGN berkomitmen memperketat pengawasan terhadap seluruh dapur dan titik distribusi program MBG di berbagai daerah. Selain itu, seluruh SPPG diinstruksikan untuk disiplin menerapkan standar keamanan pangan, khususnya terkait pengolahan dan distribusi makanan, guna mencegah insiden serupa di masa mendatang.






