Kader HMI UMI Bekasi Diduga Dikeroyok, Kampus Didesak Bertindak
Dugaan pengeroyokan terhadap seorang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di lingkungan Universitas Muhammadiyah Indonesia (UMI) Bekasi mendapat sorotan dari internal organisasi mahasiswa. HMI Komisariat Fakultas Agama Islam (FAI) UMI meminta pihak kampus dan aparat penegak hukum memastikan insiden tersebut ditangani secara terbuka dan sesuai ketentuan.
Peristiwa itu diketahui melalui sebuah video yang memperlihatkan kerumunan mahasiswa hingga terjadi bentrokan fisik. Rekaman tersebut kemudian menjadi perhatian internal HMI dan memunculkan desakan agar pihak yang terlibat dalam insiden dapat segera diidentifikasi melalui proses pemeriksaan.
Ketua Umum HMI Komisariat FAI UMI, Syahdatul Kahfi, mengecam dugaan kekerasan yang dialami kadernya. Ia menilai lingkungan perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang yang memberikan rasa aman bagi mahasiswa untuk menjalankan aktivitas akademik maupun organisasi.
“Kami mengecam segala bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan kampus. Perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar, berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan menyelesaikan perbedaan melalui mekanisme yang sesuai aturan,” kata Syahdatul dalam keterangan tertulis kepada redaksi terkenalcoid pada Sabtu 3 Oktober 2026.
Menurut dia, persoalan yang muncul di lingkungan kampus semestinya diselesaikan melalui prosedur yang berlaku. Penggunaan kekerasan fisik, kata Syahdatul, tidak dapat dijadikan cara untuk menyelesaikan konflik antarmahasiswa.
Atas kejadian tersebut, HMI Komisariat FAI UMI meminta pihak rektorat dan komisi disiplin kampus melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap mahasiswa yang diduga terlibat. Pemeriksaan dinilai penting untuk mendapatkan gambaran utuh mengenai kronologi dan pihak-pihak yang berada di lokasi kejadian.
“Kami meminta kampus tidak mengabaikan persoalan ini. Jika dalam pemeriksaan ditemukan mahasiswa yang terbukti melakukan pelanggaran, tentu harus ada tindakan sesuai aturan dan ketentuan akademik yang berlaku,” ujar Syahdatul.
HMI juga meminta adanya langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. Penegakan aturan internal kampus dinilai penting untuk menjaga lingkungan pendidikan tetap kondusif serta memberikan kepastian bagi mahasiswa dalam menjalankan kegiatan akademik dan organisasi.
Selain meminta penanganan internal, HMI mendorong aparat kepolisian melakukan penyelidikan apabila ditemukan dugaan tindak pidana. Proses tersebut diharapkan dapat mengungkap kronologi secara objektif, termasuk mengidentifikasi pihak yang terlibat dan memastikan ada atau tidaknya unsur pidana berdasarkan bukti yang tersedia.
“Kami mendorong agar proses pemeriksaan dilakukan secara objektif. Siapa pun yang nantinya terbukti terlibat harus diproses sesuai ketentuan yang berlaku, tanpa melihat latar belakang maupun kepentingan pihak tertentu,” tegas Syahdatul.
HMI Komisariat FAI UMI menyatakan akan terus memantau perkembangan penanganan perkara tersebut. Pengawalan dilakukan untuk memastikan dugaan kekerasan terhadap kadernya mendapat perhatian dan penanganan yang jelas.
Syahdatul menegaskan, penyelesaian persoalan tidak boleh mengesampingkan hak seluruh pihak untuk memberikan keterangan. Menurutnya, proses pemeriksaan yang transparan diperlukan agar tidak muncul kesimpulan sepihak mengenai insiden tersebut.
Di sisi lain, HMI kembali mengingatkan pentingnya menjaga kampus sebagai ruang pendidikan, intelektual, dan dialog. Perbedaan pandangan maupun konflik antarindividu semestinya diselesaikan melalui komunikasi dan mekanisme yang tersedia, bukan melalui kekerasan fisik.
Hingga proses pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, pihak-pihak yang disebut berkaitan dengan insiden tersebut tetap memiliki kesempatan untuk memberikan klarifikasi. Dugaan pengeroyokan maupun penganiayaan juga perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan mekanisme hukum yang berlaku.




