Ekonomi RI Tahan Tekanan, Hilirisasi Jadi Andalan

Ilustrasi ekonomi.

Bank Dunia menilai kebijakan hilirisasi tambang yang dijalankan Indonesia memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Bahkan, Indonesia disebut sebagai salah satu pelopor di kawasan Asia Timur dan Pasifik dalam mendorong industrialisasi melalui pembatasan ekspor bahan mentah.

Penilaian tersebut tertuang dalam laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026. Dalam laporan itu, Indonesia dinilai telah memanfaatkan kebijakan larangan ekspor mineral mentah untuk menarik investasi dan mempercepat pengembangan industri pengolahan.

Bank Dunia mencatat, Indonesia saat ini memiliki keunggulan komparatif pada sejumlah produk tambang setengah jadi, seperti besi, baja paduan, tembaga setengah murni, hingga bubuk seng. Produk-produk ini telah menjadi bagian penting dalam rantai nilai industri global.

Namun demikian, potensi Indonesia di sektor hilir dinilai masih belum dimaksimalkan. Produk seperti pegas berbahan baja, baja tahan karat canai datar, serta berbagai turunan nikel disebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih lanjut.

“Produksi sejumlah produk hilir masih berada di bawah kapasitas potensialnya. Ini menunjukkan ruang pengembangan hilirisasi masih sangat luas,” tulis Bank Dunia dalam laporannya.

Lembaga tersebut menilai, dengan kebijakan yang tepat dan terukur, Indonesia dapat mengoptimalkan hilirisasi tanpa bergantung pada pembatasan ekspor yang berpotensi menimbulkan distorsi pasar. Pendekatan baru ini juga dinilai dapat mendorong praktik pertambangan yang lebih ramah lingkungan.

“Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, Indonesia dapat mendorong aktivitas pertambangan yang lebih hijau sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi,” lanjut laporan tersebut.

Sejak 2014, Indonesia konsisten menerapkan kebijakan larangan ekspor bahan mentah, meskipun menghadapi tantangan di tingkat global, termasuk sengketa di World Trade Organization. Kebijakan ini dinilai berhasil menarik investasi signifikan di sektor smelter dalam waktu relatif singkat.

Saat ini, kapasitas pengolahan mineral nasional disebut telah mencapai tahap matang. Untuk memaksimalkan kontribusi sektor ini, Bank Dunia merekomendasikan agar pemerintah mengarahkan reinvestasi dari pajak ekspor ke dalam bentuk subsidi berbasis kinerja yang transparan.

Subsidi tersebut, menurut Bank Dunia, perlu difokuskan pada pengembangan industri hilir prioritas guna mempercepat transformasi struktur ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, Bank Dunia juga kembali menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan global, khususnya kenaikan harga energi akibat gejolak geopolitik.

Indonesia dinilai memiliki “buffer” ekonomi yang kuat, didukung oleh pendapatan ekspor komoditas yang stabil sebagai bentuk lindung nilai alami. Kondisi ini membantu menjaga neraca perdagangan, transaksi berjalan, serta stabilitas fiskal.

“Negara dengan bantalan kuat seperti Indonesia memiliki ruang kebijakan yang cukup besar untuk menyerap tekanan global,” tulis Bank Dunia.

Kebijakan pemerintah dalam menahan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi juga dinilai efektif dalam mengendalikan inflasi domestik. Berdasarkan simulasi Bank Dunia, kenaikan harga minyak dunia sebesar 20 dolar AS per barel hanya akan mendorong inflasi Indonesia ke level moderat, sekitar 0,22 persen.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan negara lain di kawasan seperti Thailand dan Filipina, yang diproyeksikan mengalami tekanan inflasi lebih tinggi.

Dengan kombinasi hilirisasi yang terus berkembang dan kebijakan ekonomi yang adaptif, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.

Tutup