Diduga Tak Diizinkan Cuti, Karyawan Mie Gacoan Diminta Mundur

Mie Gacoan

Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya tangkapan layar percakapan yang diduga melibatkan seorang pegawai restoran yang diminta mengundurkan diri setelah mengajukan izin cuti untuk merawat orang tuanya yang sakit.

Kasus ini mencuat setelah diunggah oleh akun X X (Twitter) @xbacottetangga, yang menyebut peristiwa tersebut terjadi pada salah satu gerai Mie Gacoan di wilayah Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara.

Dalam percakapan yang beredar, karyawan tersebut terlihat menyampaikan permohonan izin cuti secara sopan kepada atasannya. Ia mengungkapkan kondisi orang tuanya yang sedang sakit sebagai alasan utama permintaan tersebut.

“Pak, boleh tidak saya ambil cuti besok karena orang tua saya sakit. Kalau memang tidak bisa, saya tetap masuk tidak apa-apa,” tulis karyawan tersebut dalam pesan yang viral.

Namun, respons yang diduga berasal dari atasannya justru menuai sorotan publik. Alih-alih memberikan izin atau alternatif solusi, atasan tersebut disebut langsung meminta karyawan tersebut untuk mengajukan pengunduran diri.

“Setelah Lebaran kirim saja surat resign, nanti saya langsung setujui. Silakan libur sepuasnya,” demikian balasan yang beredar dalam tangkapan layar.

Tak hanya itu, atasan tersebut juga disebutkan menentukan tanggal terakhir bekerja serta meminta surat pengunduran diri segera dikirimkan, yang kemudian memicu reaksi keras dari warganet.

Sejumlah pengguna media sosial menilai respons tersebut tidak mencerminkan empati dan dinilai bertentangan dengan prinsip perlindungan terhadap pekerja, terutama dalam kondisi darurat keluarga.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen terkait kebenaran percakapan tersebut maupun langkah yang akan diambil menyusul viralnya kasus ini.

Pengamat ketenagakerjaan menilai, jika terbukti benar, tindakan tersebut berpotensi melanggar hak normatif pekerja yang diatur dalam peraturan ketenagakerjaan, termasuk hak untuk mengajukan izin dalam kondisi mendesak.

Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara kepentingan perusahaan dan hak kemanusiaan pekerja, terutama dalam situasi darurat yang melibatkan keluarga inti.

Tutup