Benarkah George Soros Terlibat dalam Kerusuhan di Indonesia?
Demonstrasi belum lama ini pada bulan Agustus yang telah berubah menjadi kerusuhan di berbagai kota di Indonesia telah diduga adanya campur tangan asing. Dugaan itu diungkap oleh analisis yang muncul dalam laporan kantor berita asing Sputnik.
Mengutip dari pakar geopolitik internasional Angelo Giuliano, media milik pemerintah Rusia tersebut pihaknya menduga bahwa miliarder ternama George Soros dan National Endowment for Democracy (NED), sebuah lembaga yang dibentuk oleh Kongres Amerika Serikat, berada di balik demonstrasi baru-baru ini di Indonesia.
Dalam analisisnya, Giuliano mengungkapkan indikasi keterlibatan asing dalam berbagai demonstrasi di Indonesia. Menurut dia, penggunaan bendera “One Piece” yang meluas dan viral akhir-akhir ini mencerminkan pengaruh eksternal terhadap kondisi di Indonesia.
“NED dan Soros telah berada di balik layar di Indonesia selama bertahun-tahun,” ujar Giuliano kepada Sputnik.
NED, yang didirikan sebagai lembaga nirlaba pada tahun 1983, dilaporkan telah mendanai media Indonesia sejak tahun 1990-an.
Soros, melalui yayasannya, Open Society Foundations, juga telah aktif menyalurkan lebih dari USD 8 miliar ke berbagai negara, termasuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Indonesia sejak tahun 1990-an.
Lanjuy menurut Giuliano, keterlibatan asing dalam protes di Indonesia menimbulkan pertanyaan tentang linimasa yang perlu diselidiki, terutama selama periode kerusuhan.
Demonstrasi yang berpuncak pada kerusuhan berkepanjangan tersebut memaksa Presiden Prabowo Subianto untuk membatalkan kunjungan kenegaraannya yang telah lama dijadwalkan ke Tiongkok.
Sementara itu, Jurnalis dan pakar hubungan internasional Jeff J. Brown memiliki sentimen serupa. Ia yakin Barat tidak menyukai kebijakan Presiden Prabowo, yang telah mendekatkan Indonesia dengan Rusia dan Tiongkok.
Prabowo juga secara terbuka memupuk kedekatan Indonesia dengan blok negara-negara non-Barat, termasuk aliansi Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan (BRICS).
“Indonesia adalah negara pertama di Asia Tenggara yang bergabung dengan BRICS dan secara terbuka berkolaborasi dengan Tiongkok dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan,” kata penulis The China Trilogy tersebut.
Brown juga mencatat bahwa Indonesia adalah ekonomi terbesar kedelapan di dunia dalam hal daya beli.
“Dengan populasi sekitar 300 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang unik. Dari perspektif imperialisme Barat, Indonesia adalah target raksasa….sangat layak diserang dengan revolusi ala Barat,” ujarnya.




