Bangkai Kapal Perang AS di Teluk Banten Dapat Hibah Rp4 Miliar
Pemerintah Amerika Serikat mengalokasikan hibah sebesar 227.000 dolar AS atau sekitar Rp4 miliar untuk mendukung perlindungan bangkai kapal perang USS Houston di Teluk Banten. Dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat pengawasan dan mencegah kerusakan situs bersejarah bawah laut peninggalan Perang Dunia II.
Program bertajuk Protection of the World War II Shipwreck Site of the USS Houston itu disalurkan melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pelaksanaannya direncanakan berlangsung selama 24 bulan, mulai akhir 2026 hingga pertengahan 2028.
Melalui program tersebut, pemerintah menargetkan keterlibatan masyarakat pesisir dalam menjaga kawasan bangkai kapal. Upaya yang direncanakan mencakup pencegahan pengambilan material kapal secara ilegal serta pengawasan terhadap aktivitas penangkapan ikan yang berpotensi merusak situs.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menilai pelestarian warisan budaya bawah air memerlukan kerja sama lintas negara, dukungan ilmu pengetahuan, dan partisipasi masyarakat setempat.
“Pelestarian warisan budaya bawah air membutuhkan kolaborasi lintas negara, dukungan ilmu pengetahuan, dan keterlibatan aktif masyarakat pesisir,” kata Trenggono dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, perlindungan USS Houston merupakan bagian dari tanggung jawab Indonesia untuk menjaga warisan budaya bawah air yang berada di wilayah perairan nasional.
Jaring Nelayan hingga Sampah Laut Jadi Ancaman
Rencana perlindungan ini menyusul temuan KKP dari survei yang dilakukan pada 2015 dan 2018. Dalam survei tersebut, sejumlah ancaman terhadap bangkai kapal teridentifikasi, mulai dari jaring nelayan yang tersangkut hingga sampah laut dan potensi kerusakan akibat aktivitas manusia.
Untuk memperkuat pengawasan di sekitar lokasi, KKP berencana membentuk dan melatih tiga kelompok masyarakat pengawas atau pokmaswas. Kelompok tersebut akan ditempatkan di Pulau Panjang, Karangantu, dan Bojonegara.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan KKP, I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa kegiatan program meliputi pelatihan masyarakat, penyusunan mekanisme pelaporan, pemantauan situs, serta edukasi kepada publik.
Edukasi akan dilakukan melalui sejumlah saluran, termasuk pameran dan platform digital. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nilai sejarah dan pentingnya menjaga peninggalan maritim di bawah laut.
Radiarta berharap pengawasan yang melibatkan masyarakat dapat mendukung kerja instansi berwenang dalam mencegah kerusakan maupun aktivitas ilegal di sekitar bangkai kapal.
Saksi Sejarah Pertempuran Selat Sunda
USS Houston merupakan kapal penjelajah berat Angkatan Laut Amerika Serikat yang tenggelam dalam Pertempuran Selat Sunda pada 28 Februari hingga 1 Maret 1942. Dalam pertempuran yang sama, kapal perang Australia HMAS Perth juga tenggelam.
Peristiwa tersebut menjadi bagian dari sejarah Perang Dunia II di kawasan Asia Tenggara. Saat ini, kedua bangkai kapal itu memiliki nilai sejarah bagi Indonesia, Amerika Serikat, dan Australia, sekaligus menjadi makam perang.
Melalui dukungan hibah tersebut, perlindungan terhadap USS Houston diharapkan dapat diperkuat melalui pengawasan yang lebih terorganisasi dan keterlibatan masyarakat pesisir. Upaya ini juga menjadi bagian dari pelestarian situs bersejarah bawah laut yang berada di perairan Indonesia.



