Antrean BBM Capai 500 Meter, Polsek Kuta Utara Turun ke Lokasi

Kapolsek Kuta Utara, Kompol I Ketut Sukadana, S.H., yang turun ke lokasi untuk mengatur ketertiban antrean dan mencegah gangguan lalu lintas.

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax di sejumlah wilayah Bali mengganggu aktivitas masyarakat. Sejumlah SPBU dilaporkan kehabisan stok, memicu antrean kendaraan dan menghambat mobilitas warga.

Pantauan pada Senin (12/10) menunjukkan sejumlah kendaraan terpaksa berbalik arah di SPBU Sesetan, Denpasar Selatan. Seorang warga bernama Pemara bahkan mengalami mobil mogok setelah mendatangi lima SPBU yang seluruhnya kehabisan BBM.

Kondisi serupa dialami pengemudi ojek online bernama Agus. Ia terpaksa menghentikan sementara aktivitasnya karena khawatir kehabisan bensin di tengah perjalanan.

Antrean kendaraan juga dilaporkan mengular hingga sekitar 500 meter di wilayah Kuta Utara. Situasi ini direspons langsung oleh Kapolsek Kuta Utara, Kompol I Ketut Sukadana, S.H., yang turun ke lokasi untuk mengatur ketertiban antrean dan mencegah gangguan lalu lintas.

“Kami turun langsung untuk memastikan antrean kendaraan di SPBU tetap tertib dan tidak mengganggu arus lalu lintas. Kami juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang, mengikuti arahan petugas, serta tidak menyerobot antrean. Kami berupaya menjaga situasi tetap aman dan kondusif di tengah kelangkaan BBM ini,” kata Kompol I Ketut Sukadana.

Di tengah kelangkaan tersebut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat sebelumnya mengungkap dugaan pemotongan jatah BBM hingga 50 persen di beberapa titik distribusi lokal. Dugaan tersebut perlu ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan penyebab terganggunya pasokan.

Direktur Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Bali, I Putu Armaya, mendesak BPH Migas, Pertamina, dan pemerintah daerah segera mengevaluasi distribusi BBM. Ia menilai kelangkaan telah menimbulkan kerugian nyata bagi masyarakat.

“Persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai dinamika biasa. Konsumen dirugikan secara nyata—waktu terbuang, biaya operasional meningkat, bahkan kendaraan rusak akibat mogok. Masyarakat butuh solusi cepat dan aparat penegak hukum harus menindak tegas jika ada indikasi mafia BBM,” ujar Armaya.

Sementara itu, Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus menyatakan tengah mempercepat pemulihan pasokan. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina, Ahad Rahedi, menyebut pengiriman 18.000 kiloliter Pertalite dan 2.500 kiloliter Pertamax melalui Integrated Terminal Manggis, disertai tambahan kargo BBM sebesar 20.500 kiloliter ke Bali.

Gubernur Bali juga disebut telah memanggil pihak Hiswanamigas untuk membahas kelancaran pasokan. Masyarakat kini menantikan normalisasi distribusi agar kebutuhan BBM kembali terpenuhi dan aktivitas ekonomi tidak terus terganggu.

Tutup