Prabowo Lirik Industri K-Pop, Peluang atau Tantangan?
Presiden Prabowo Subianto disebut tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk meningkatkan jumlah konser K-Pop di Indonesia. Rencana tersebut diungkap oleh Menteri Luar Negeri Sugiono sebagai bagian dari pendekatan diplomasi budaya sekaligus penguatan sektor ekonomi kreatif.
Dalam keterangannya di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Sugiono menyampaikan bahwa ide tersebut muncul dari diskusi internal pemerintah yang melihat tingginya minat masyarakat terhadap industri hiburan Korea Selatan.
“Presiden memiliki perhatian terhadap besarnya antusiasme masyarakat, khususnya penggemar K-Pop, sehingga muncul gagasan untuk memperbanyak konser di Indonesia,” ujarnya.
Menurut Sugiono, langkah ini tidak hanya berkaitan dengan hiburan semata, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi. Kehadiran konser internasional dinilai mampu mendorong perputaran ekonomi, mulai dari sektor pariwisata, perhotelan, hingga industri kreatif lokal.
Ia juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo sempat menyoroti fakta adanya talenta Indonesia yang berhasil menembus industri K-Pop, yang selama ini dikenal sangat kompetitif.
“Presiden juga menyampaikan bahwa ada warga Indonesia yang menjadi bagian dari grup K-Pop, dan itu menjadi kebanggaan tersendiri,” kata Sugiono.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan adanya potensi kolaborasi lintas negara di bidang budaya populer. Pemerintah melihat fenomena K-Pop tidak hanya sebagai tren global, tetapi juga sebagai peluang memperluas pengaruh budaya dan kerja sama internasional.
Rencana ini turut dikaitkan dengan kunjungan kerja Presiden ke Korea Selatan dan Jepang pada akhir Maret 2026. Kunjungan tersebut disebut menghasilkan sejumlah komitmen kerja sama ekonomi yang signifikan.
“Setiap kunjungan kenegaraan membawa dampak ekonomi. Dari Korea Selatan saja, nilai kerja sama yang tercatat mencapai sekitar 10 miliar dolar AS,” jelas Sugiono.




