Kasus Keracunan MBG di Jakarta Terus Meluas, Total 135 Orang Terdampak

Kercunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di jakarta.

Dugaan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengguncang wilayah Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Kamis (3/4/2026) menjelang siang. Insiden ini menimbulkan kepanikan setelah ratusan warga sekolah dilaporkan mengalami gejala gangguan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Berdasarkan data sementara dari Satuan Pelaksana Pendidikan Kecamatan Duren Sawit, total korban terdampak mencapai 135 orang. Mereka terdiri dari siswa, guru, hingga tenaga kependidikan dari sejumlah sekolah yang menerima distribusi makanan MBG pada hari yang sama.

Rincian korban menunjukkan sebaran yang cukup luas. Sebanyak 33 siswa berasal dari SDN Pondok Kelapa 09, disusul 37 siswa dari SDN Pondok Kelapa 01, serta 31 siswa dari SDN Pondok Kelapa 07. Sementara itu, dari tingkat menengah atas, tercatat 34 orang dari SMAN 91 turut terdampak, yang meliputi 28 siswa serta 6 guru dan tenaga kependidikan.

Dari total tersebut, sebanyak 15 siswa dilaporkan masih menjalani perawatan intensif di RSUD Duren Sawit. Kondisi mereka terus dipantau oleh tim medis guna memastikan proses pemulihan berjalan optimal.

Pihak berwenang menyatakan bahwa penanganan korban menjadi prioritas utama. Koordinasi intensif dilakukan antara pihak sekolah, dinas terkait, serta rumah sakit rujukan untuk memastikan seluruh pasien mendapatkan perawatan sesuai kebutuhan medis masing-masing.

“Pendataan masih terus kami lakukan dan akan diperbarui secara berkala. Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh korban tertangani dengan baik,” ujar salah satu perwakilan pihak pendidikan setempat.

Hingga kini, penyebab pasti dari dugaan keracunan massal tersebut belum diumumkan secara resmi. Namun, investigasi awal mulai diarahkan pada aspek kualitas makanan serta proses distribusi dalam program MBG.

Tim terkait juga diperkirakan akan melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi para korban. Langkah ini penting untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya kontaminasi atau pelanggaran standar keamanan pangan.

Selain itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi makanan menjadi perhatian serius. Dugaan adanya jeda waktu distribusi atau penyimpanan yang tidak sesuai standar menjadi salah satu faktor yang tengah ditelusuri.

Tutup