Israel-Iran Saling Serang, Ketegangan Hormuz Kian Memanas
Konflik antara Israel dan Iran kembali memasuki fase eskalasi pada Jumat (27/3), ditandai dengan saling serang yang berlangsung hampir sepanjang hari. Situasi ini terjadi di tengah tekanan internasional untuk meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Serangan udara dan rudal menjadi bagian dari rangkaian aksi militer kedua negara. Otoritas Israel menyatakan operasi militer difokuskan pada target strategis yang berkaitan dengan keamanan dan pertahanan Iran.
Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan bahwa serangan akan terus dilanjutkan selama ancaman dari Iran dinilai masih ada. Ia menyebut intensitas operasi militer tidak akan dikurangi dalam waktu dekat.
“Operasi terhadap target keamanan Iran akan terus dilakukan secara intensif,” ujar Katz dalam pernyataan resminya.
Di sisi lain, Iran merespons dengan meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke wilayah Israel. Aksi tersebut menunjukkan bahwa konflik kini telah berkembang menjadi konfrontasi terbuka yang sulit dikendalikan.
Ketegangan kian meningkat setelah Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Penutupan jalur ini berdampak langsung pada pasokan minyak dan gas global, sekaligus memicu gejolak di pasar internasional.
Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan tekanan terhadap Teheran. Ia sebelumnya mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran apabila blokade tidak segera dicabut.
Namun, dalam perkembangan terbaru, Trump memilih memperpanjang tenggat hingga 6 April. Ia mengklaim bahwa Iran meminta tambahan waktu untuk merespons tuntutan tersebut.
“Kami masih dalam pembicaraan, dan semuanya berjalan ke arah yang baik,” kata Trump melalui pernyataan di media sosial.
Klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran yang menegaskan tidak ada negosiasi resmi terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Perbedaan pernyataan ini semakin menambah ketidakpastian di tengah konflik yang terus berkembang.
Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat belum memberikan rincian terkait operasi militer yang disebut-sebut masih berlangsung. Tidak ada agenda konferensi pers dalam waktu dekat, sehingga informasi resmi masih terbatas.
Upaya diplomasi terus dilakukan di tingkat global. Para diplomat dari negara-negara anggota G7 dilaporkan berkumpul di Prancis untuk mencari jalan keluar guna menghentikan konflik serta memastikan jalur pelayaran internasional kembali aman.
Sebelum pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengimbau negara-negara sekutu untuk meningkatkan kehadiran militer di kawasan, termasuk dengan mengerahkan kapal perang guna melindungi jalur pelayaran dari potensi ancaman.
Dengan situasi yang terus memanas, Selat Hormuz kini menjadi titik krusial yang tidak hanya menentukan stabilitas energi global, tetapi juga arah dinamika geopolitik dalam waktu dekat.





