Tanpa Peringatan, Warga Teheran Hadapi Teror Serangan
Korban sipil terus berjatuhan seiring eskalasi konflik bersenjata di Iran yang belum menunjukkan tanda mereda. Dalam laporan terbaru, lembaga pemantau berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency, mencatat sedikitnya 1.464 warga sipil tewas dalam bulan pertama perang, termasuk 217 anak-anak.
Jumlah tersebut menggambarkan besarnya dampak konflik terhadap masyarakat sipil, khususnya di wilayah perkotaan padat penduduk seperti Teheran. Serangan yang menghantam kawasan permukiman disebut memicu kemarahan publik yang meluas, bahkan dari kelompok yang sebelumnya bersikap kritis terhadap pemerintah Iran.
Sejumlah warga menyebut intensitas serangan semakin sulit diprediksi. Mereka menilai target militer yang diklaim oleh pihak penyerang kerap berada sangat dekat dengan kawasan sipil, sehingga menimbulkan kerusakan luas di luar sasaran utama.
Pihak militer Israel melalui Israel Defense Forces (IDF) mengakui adanya operasi militer di wilayah Iran, namun tidak memberikan penjelasan rinci terkait dampak serangan tersebut. Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat hingga kini belum memberikan tanggapan resmi atas laporan korban sipil yang terus meningkat.
Di sisi lain, Iran juga dilaporkan melancarkan serangan balasan yang menyasar sejumlah fasilitas sipil di negara-negara kawasan Teluk yang memiliki hubungan dengan Washington. Target yang disebut termasuk bandara hingga hotel, yang menambah kompleksitas konflik regional.
Di Teheran, kondisi di lapangan menunjukkan kehancuran yang cukup parah. Sejumlah bangunan tempat tinggal dilaporkan rata dengan tanah setelah dihantam serangan. Struktur bangunan bertingkat hanya menyisakan kerangka beton, sementara puing-puing berserakan di berbagai titik.
Warga yang kehilangan tempat tinggal terpaksa mengungsi ke lokasi yang lebih aman, termasuk hotel atau tempat penampungan sementara. Namun, banyak dari mereka mengaku tidak mendapatkan bantuan yang memadai dari pemerintah, baik dalam bentuk evakuasi maupun penyediaan hunian darurat.
Kritik juga diarahkan pada minimnya sistem perlindungan sipil. Sejumlah warga menilai tidak ada prosedur yang jelas saat serangan terjadi, termasuk absennya sistem peringatan dini yang seharusnya dapat mengurangi risiko korban.
“Tidak ada sirene, tidak ada peringatan. Yang terdengar hanya ledakan,” ujar seorang warga Teheran menggambarkan situasi mencekam saat serangan berlangsung.
Selain itu, pemadaman internet yang masih diberlakukan semakin memperburuk kondisi. Keterbatasan akses informasi membuat warga kesulitan mengetahui perkembangan situasi maupun langkah penyelamatan yang harus diambil.
Hingga kini, pemerintah Iran belum mengumumkan secara komprehensif langkah perlindungan sipil di tingkat nasional. Kondisi tersebut membuat masyarakat berada dalam ketidakpastian, di tengah ancaman serangan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.






