Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, merespons wacana Presiden Prabowo Subianto yang disebut berkeinginan mengambil peran sebagai mediator dalam konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
JK menilai upaya tersebut bukan perkara mudah, mengingat kompleksitas konflik serta posisi tawar Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.
“Sayangnya, Indonesia telah mengadakan perjanjian yang tidak seimbang dan sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara dengan Amerika. Bagaimana mendamaikan pihak-pihak yang tidak setara dalam situasi seperti ini?” ujar JK.
Ia menambahkan, meski niat menjadi mediator merupakan langkah positif, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang jauh lebih besar.
“Rencana itu baik saja, tetapi ini situasi yang jauh lebih besar masalahnya. Israel dengan Palestina saja tidak bisa, sulit didamaikan, karena dunia ini sangat ditentukan oleh sikap Amerika,” tambahnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Pada 28 Februari 2026, Israel dilaporkan melancarkan serangan ke wilayah Iran.
Dalam perkembangan selanjutnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan militer Amerika Serikat telah memulai operasi tempur besar-besaran terhadap Iran.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel disebut melibatkan tujuh roket yang menghantam Teheran, termasuk area yang berdekatan dengan kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran dilaporkan meluncurkan serangan roket ke sejumlah target di Israel, serta ke beberapa titik di kawasan Teluk seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran internasional akan meluasnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan maupun global.