Harga Emas Bangkit di Tengah Ketidakpastian Suku Bunga AS
Harga emas global kembali mencatatkan penguatan pada perdagangan Kamis (19/2/2026) setelah sempat mengalami tekanan signifikan pada sesi sebelumnya. Pemulihan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai (safe-haven), seiring ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta eskalasi risiko geopolitik global.
Pada awal sesi perdagangan Asia, kontrak emas dengan pasangan XAU/USD bergerak stabil di kisaran USD 4.985 per ounce. Posisi tersebut mencerminkan adanya minat beli yang kembali muncul dari pelaku pasar setelah logam mulia ini sempat terkoreksi lebih dari dua persen sehari sebelumnya.
Penguatan harga emas terjadi menjelang publikasi risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) milik Federal Reserve. Dokumen tersebut dinilai krusial karena dapat memberikan petunjuk mengenai pandangan pembuat kebijakan terhadap prospek suku bunga dalam waktu dekat.
Dalam pertemuan terakhir, bank sentral AS memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Namun demikian, perbedaan pandangan di antara pejabat terkait waktu dan skala pelonggaran kebijakan moneter masih menjadi perhatian utama pelaku pasar, sehingga memicu volatilitas di sejumlah instrumen keuangan, termasuk emas.
Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menyampaikan bahwa secara teknikal pergerakan emas menunjukkan kecenderungan tren naik dalam jangka pendek. Indikasi tersebut terlihat dari formasi candlestick yang positif serta posisi indikator Moving Average yang mengonfirmasi dominasi tekanan beli.
Ia menilai selama harga bertahan di atas area support utama, peluang penguatan masih terbuka. Dalam skenario tersebut, XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan untuk menguji level resistance di sekitar 5.041, yang dinilai menjadi titik krusial dalam menentukan arah pergerakan berikutnya.
Meski demikian, risiko koreksi tetap perlu diantisipasi. Area support terdekat saat ini berada di kisaran 4.911. Apabila harga menembus level tersebut, emas berpotensi mengalami tekanan lanjutan sebelum kembali menemukan keseimbangan baru di pasar.
Selain faktor teknikal, sentimen fundamental turut menopang pergerakan harga. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali meningkatkan kekhawatiran investor global, sehingga mendorong permintaan terhadap instrumen safe-haven seperti emas.
Di sisi lain, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve juga masih menjadi faktor dominan. Sejumlah pejabat bank sentral disebut tetap mewaspadai tekanan inflasi, yang membuka kemungkinan kebijakan moneter ketat dipertahankan lebih lama. Kondisi ini berpotensi menopang penguatan dolar AS yang secara historis memiliki korelasi terbalik terhadap harga emas.
Sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang akan dirilis dalam waktu dekat, seperti klaim pengangguran awal, data sektor perumahan, Produk Domestik Bruto (PDB), hingga Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), diperkirakan akan menjadi indikator utama dalam membentuk ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga.
Secara keseluruhan, prospek harga emas dinilai masih cenderung positif selama sentimen safe-haven tetap terjaga dan dukungan teknikal tidak melemah. Namun, pelaku pasar diimbau tetap mencermati dinamika ekonomi global serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin mengingat volatilitas masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek.





