Kabar mengejutkan datang dari lingkungan Universitas Gadjah Mada. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM UGM), Tiyo Ardianto, mengaku keluarganya menjadi sasaran teror setelah dirinya melontarkan kritik terhadap proyek MBG.
Menurut Tiyo, peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu malam, 14 Februari 2026. Ia mengungkapkan bahwa ibundanya tiba-tiba menerima pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal yang berisi tuduhan serius terhadap dirinya.
Pesan tersebut menuding Tiyo telah menggelapkan dana kampus. Isi pesan bernada provokatif dan mencoba membangun opini negatif dengan menyebut dirinya aktif agar mendapatkan “setoran”.
“Hobi nilep dana kampus ternyata, pantesan aktif banget, biar dapat setoran,” demikian bunyi pesan yang diterima ibunya.
Tak hanya berupa teks, pengirim juga menyertakan foto Tiyo lengkap dengan keterangan yang menyebut dirinya sebagai Ketua BEM UGM yang diduga menilep dana penggalangan untuk mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP).
Akibat pesan tersebut, sang ibu disebut sempat merasa khawatir dan tertekan. Tiyo mengatakan dirinya langsung berusaha menenangkan ibundanya serta memastikan bahwa tudingan tersebut tidak benar.
“Saya yakinkan ibu bahwa tidak akan ada apa-apa. Tuduhan itu tidak benar dan tidak berdasar,” ujar Tiyo.
Ia menilai aksi tersebut sudah melampaui batas karena menyasar ranah pribadi dan keluarga, bukan lagi sekadar perdebatan di ruang publik. Hingga kini belum diketahui siapa pengirim pesan tersebut.
Peristiwa ini memicu perhatian publik dan kembali menyoroti isu dugaan intimidasi terhadap mahasiswa yang bersuara kritis. Sejumlah pihak mendesak agar ada penelusuran lebih lanjut guna memastikan keamanan serta perlindungan bagi mahasiswa dalam menyampaikan pendapat.





