Epstein Files Dibuka, Indonesia Turut Disebut dalam Ribuan Dokumen
Rilisan terbaru Epstein Files kembali menggemparkan publik internasional. Departemen Kehakiman Amerika Serikat resmi membuka sekitar tiga juta dokumen baru dari total enam juta arsip yang berkaitan dengan kasus predator seksual Jeffrey Epstein.
Sejumlah nama tokoh ternama dunia kembali muncul dalam dokumen tersebut, di antaranya Bill Gates, Pangeran Andrew, Elon Musk, hingga mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Menariknya, Indonesia turut disebut dalam ribuan dokumen, dengan Bali dan Jakarta tercatat sebagai kota yang pernah dikunjungi Epstein.
Meski Jeffrey Epstein telah meninggal dunia pada 2019, skandal yang melibatkannya terus bergulir dan disebut sebagai salah satu kasus kriminal paling kelam dalam sejarah Amerika Serikat.
Berdasarkan penelusuran terhadap dokumen yang dirilis dan kini dapat diakses publik, kata kunci “Indonesia” tercantum dalam 902 dokumen dengan beragam konteks pembahasan.
Sebagian besar dokumen tersebut berkaitan dengan urusan administratif, seperti pengiriman barang, invoice, serta lampiran administrasi yang dikirim ke Amerika Serikat. Namun, sejumlah file juga menyebut Indonesia dalam konteks artikel berita, laporan ekonomi, hingga bahan briefing lembaga keuangan internasional.
Salah satu dokumen yang mencantumkan Indonesia adalah laporan JP Morgan tahun 2014 yang membahas kondisi politik dan ekonomi Tanah Air, termasuk hasil Pemilihan Presiden yang memenangkan Joko Widodo.
Dalam laporan tersebut, JP Morgan menyoroti stabilitas politik Indonesia serta optimisme terhadap perbaikan tata kelola pemerintahan dan reformasi struktural yang dinilai berdampak positif bagi pasar saham nasional.
Selain laporan ekonomi, beberapa dokumen Epstein Files juga memuat artikel berita internasional terkait situasi keamanan di Indonesia. Salah satunya adalah artikel Channel NewsAsia berjudul “Terror cells in Indonesia continue to recruit and plot attacks amid COVID-19” yang tercantum sebagai lampiran dalam dokumen bertanggal Januari 2021.
Nama Indonesia juga muncul dalam berbagai daily briefing dan buletin internasional, termasuk publikasi The Shimon Post yang menyinggung dinamika politik Indonesia, khususnya kejatuhan Presiden ke-2 RI Soeharto, sebagai perbandingan dengan situasi politik di kawasan Timur Tengah.
Dalam dokumen terpisah, nama Hary Tanoesoedibjo tercantum dalam laporan FBI berlabel unclassified dengan kop Federal Bureau of Investigation CHS Reporting tertanggal Oktober 2020.
Dokumen tersebut merupakan catatan FBI berdasarkan informasi dari confidential human sources (CHS) terkait dugaan pengaruh domestik maupun asing terhadap proses pemilu Amerika Serikat. Dalam laporan itu disebutkan bahwa Hary Tanoesoedibjo terlibat dalam pengembangan hotel milik Donald Trump serta pernah membeli rumah Trump di Beverly Hills dengan nilai tinggi.
Laporan tersebut juga menyinggung relasi Trump dengan sejumlah tokoh internasional dalam konteks dugaan keterkaitan kepentingan politik global.
Menariknya, dalam sebagian dokumen Epstein Files juga ditemukan korespondensi antara manajer hotel di Bali dengan individu yang disebut terafiliasi dengan Jeffrey Epstein. Namun, dokumen tersebut tidak merinci secara jelas konteks komunikasi maupun aktivitas yang dilakukan.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak-pihak yang disebutkan dalam dokumen terkait dugaan keterkaitan langsung dengan kejahatan Epstein.
Rilisan terbaru Epstein Files ini menegaskan bahwa skandal Jeffrey Epstein tidak hanya berdampak di Amerika Serikat, tetapi juga memiliki jejak global yang masih terus ditelusuri oleh publik dan penegak hukum internasional.



