Iran Tetapkan Masa Berkabung Usai Kerusuhan Tewaskan Ratusan Warga
Kerusuhan yang melanda sejumlah wilayah di Iran dilaporkan terus meluas dan menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 500 orang meninggal dunia akibat gelombang kekerasan yang terjadi selama beberapa hari terakhir.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban, pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Pengumuman tersebut disampaikan pada Minggu (11/1/2026) waktu setempat.
Melalui siaran resmi Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), pemerintah menyebut kekerasan yang terjadi sebagai aksi terorisme perkotaan yang menargetkan warga sipil dan aparat keamanan.
“Rakyat Iran telah mengalami langsung teroris kriminal yang melancarkan kekerasan perkotaan seperti ISIS terhadap warga sipil, anggota Basij, dan pasukan keamanan, yang mengakibatkan banyak kematian dan tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar IRIB dalam pernyataannya, Senin (12/1/2026).
Mengutip laporan AFP, pemerintah Iran juga menyerukan kepada rakyatnya untuk terus melawan apa yang mereka sebut sebagai campur tangan Amerika Serikat dan Israel dalam kerusuhan tersebut. Teheran menuding kedua negara berada di balik aksi kekerasan yang mengguncang negara itu.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut menyampaikan seruan kepada masyarakat untuk turun ke jalan mengikuti “pawai perlawanan nasional” pada Senin (12/1/2026). Aksi tersebut ditujukan untuk mengecam kekerasan serta menunjukkan solidaritas nasional terhadap korban.
“Presiden Masoud Pezeshkian mendesak masyarakat untuk ikut serta dalam pawai perlawanan nasional berupa demonstrasi nasional pada hari Senin untuk mengecam kekerasan yang menurut pemerintah dilakukan oleh penjahat teroris perkotaan,” demikian laporan televisi pemerintah Iran.
Hingga kini, situasi keamanan di sejumlah kota besar Iran masih dilaporkan tegang, sementara aparat keamanan terus meningkatkan penjagaan guna mengendalikan kondisi di lapangan.



