BGN Ancam Tutup Dapur MBG Tak Sesuai Standar, Targetkan Nol Insiden Keracunan 2026

Nanik S. Deyang

Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan akan menutup dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memenuhi standar pelayanan dan keamanan pangan. Langkah ini diambil untuk menekan risiko keracunan dan menargetkan tidak ada lagi insiden keamanan pangan pada tahun 2026.

Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan penutupan dapur MBG akan dilakukan secara bertahap setelah dapur yang bersangkutan menerima tiga kali peringatan namun tetap tidak melakukan perbaikan sesuai ketentuan.

“Kami akan segera mengeluarkan petunjuk teknis yang tegas mengenai dapur-dapur yang tidak sesuai standar. Akan ada peringatan pertama, kedua, dan jika peringatan ketiga tidak dipatuhi, maka dapur akan kami tutup,” ujar Nanik saat meninjau pelaksanaan MBG di SMK Negeri 1 Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Ia menegaskan, seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Kewajiban ini diberlakukan menyusul masih ditemukannya bakteri Escherichia coli (E-coli) di udara pada sejumlah dapur MBG hasil pemeriksaan sebelumnya.

“Kami bekerja keras meminimalisasi insiden. Sejak September 2025, tren kasus keracunan sudah menurun cukup signifikan. SLHS menjadi kewajiban karena sebelumnya ditemukan E-coli di udara di beberapa dapur,” jelasnya.

Selain aspek sanitasi udara, BGN juga memperketat standar penggunaan air bersih dalam proses pengolahan makanan. Seluruh dapur MBG kini diwajibkan menggunakan air galon bermerek untuk memastikan air yang digunakan bebas dari bakteri berbahaya.

“Sekarang air juga harus menggunakan air galon bermerek agar terjamin bebas bakteri,” pungkas Nanik.

Kebijakan pengetatan standar ini merupakan bagian dari upaya BGN memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan aman, berkualitas, dan berkelanjutan, sekaligus melindungi kesehatan penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Tutup