KLH Pastikan Usut Tuntas Gelondongan Kayu yang Terseret Banjir di Aceh
Ribuan gelondongan kayu yang terseret banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memastikan akan menelusuri secara menyeluruh asal-usul kayu tersebut serta menyiapkan langkah hukum terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa KLH telah menjadwalkan pemanggilan terhadap sejumlah perusahaan yang diduga berkaitan dengan keberadaan gelondongan kayu tersebut. Proses pemeriksaan akan dilakukan oleh Deputi Penegakan Hukum (Gakkum) KLH.
“Seluruh pimpinan perusahaan yang berdasarkan kajian citra satelit terindikasi berkontribusi menghadirkan log-log pada banjir tersebut akan kami undang untuk memberikan penjelasan. Langkah penyelidikan akan segera dimulai,” ujar Hanif saat rapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (3/12/2025).
Hanif menambahkan, tingginya jumlah korban jiwa dan kerusakan akibat bencana membuat KLH tidak memberikan toleransi dalam penanganan kasus ini. Ia menegaskan bahwa penegakan hukum akan dilakukan secara tegas tanpa adanya dispensasi.
“Kementerian Lingkungan Hidup berkomitmen menuntaskan kasus ini melalui pendekatan hukum multidomain terkait penanganan bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatra bagian utara,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat delapan perusahaan yang akan dimintai klarifikasi. Pemeriksaan tersebut meliputi aspek perizinan, aktivitas operasional, hingga dugaan pencemaran lingkungan.
“Di Sumatra Utara, khususnya wilayah Batang Toru, ada delapan perusahaan yang akan kami undang untuk dimintai keterangan,” ujar Diaz saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Di sisi lain, sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan ribuan potongan kayu memenuhi Pantai Parkit, Kota Padang, pascabanjir bandang pada Jumat (28/11). Dalam rekaman yang diunggah akun Instagram @antaranewscom, tampak muara dan bibir pantai dipenuhi gelondongan kayu dan sampah, hingga air laut berubah keruh kecokelatan dan mengganggu aktivitas nelayan.
Fenomena serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain, seperti Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, serta beberapa daerah di Aceh. Temuan tersebut semakin menguatkan dugaan adanya aktivitas ilegal atau kelalaian dalam pengelolaan lingkungan yang berkontribusi terhadap dampak bencana di wilayah terdampak.





