BNPB: 804 Tewas, 657 Hilang Akibat Banjir Bandang dan Longsor di Aceh–Sumut–Sumbar
Gelombang bencana hidrometeorologi yang melanda tiga provinsi di Sumatera—Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar)—kian menorehkan duka mendalam bagi masyarakat. Hingga Rabu pagi, 3 Desember 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan signifikan jumlah korban jiwa.
Korban Meninggal Capai 804 Jiwa, Ratusan Masih Hilang
BNPB melalui laporan resmi menyebutkan bahwa total korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor mencapai 804 jiwa, tersebar di tiga provinsi terdampak. Selain itu, sebanyak 657 orang dilaporkan hilang, sementara 2.600 orang mengalami luka-luka.
Secara keseluruhan, bencana ini telah berdampak pada 3,2 juta jiwa, dengan jumlah pengungsi berada di kisaran 576.600 hingga 1,1 juta jiwa, bergantung pada perkembangan evakuasi di lapangan.
Data Dampak Bencana (BNPB, 03/12/2025)
| Kategori Dampak | Jumlah |
|---|---|
| Meninggal Dunia | 804 jiwa |
| Hilang | 657 jiwa |
| Luka-luka | 2.600 jiwa |
| Total Terdampak | 3,2 juta jiwa |
| Mengungsi | 576,6 ribu – 1,1 juta jiwa |
Kerusakan Rumah dan Fasilitas Umum Meluas
Selain korban jiwa, kerusakan infrastruktur menjadi salah satu tantangan terbesar penanganan darurat. BNPB mencatat ribuan rumah rusak dengan rincian:
-
3.600 unit rusak berat
-
2.100 unit rusak sedang
-
4.900 unit rusak ringan
Kerusakan fasilitas umum (fasum) juga sangat signifikan, meliputi:
-
299 jembatan rusak
-
215 fasilitas pendidikan rusak
-
132 fasilitas peribadatan rusak
Juru Bicara BNPB menjelaskan bahwa persentase kerusakan fasum menunjukkan dampak serius terhadap aktivitas masyarakat dan akses penyaluran bantuan.
“Kerusakan mencapai 45,64% untuk fasum, 39,34% pada jembatan, dan 42,5% untuk fasilitas pendidikan dari total data terverifikasi,” ujar Jubir BNPB.
Operasi SAR dan Bantuan Logistik Terus Dikerahkan
Pemerintah pusat bersama BNPB, Kementerian Sosial, TNI, dan Polri terus mengerahkan alat berat, logistik, dan tim penyelamat ke berbagai titik yang masih terisolasi, termasuk wilayah Aceh Tamiang yang terdampak parah.
Menteri Sosial juga memastikan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) sebelum tahap pembangunan hunian tetap dimulai.
Peringatan Keras Soal Kerusakan Lingkungan
Di tengah penanganan darurat, sejumlah pakar lingkungan mengingatkan bahwa tragedi banjir bandang dan longsor ini harus dilihat sebagai “peringatan keras” terkait degradasi lingkungan di Sumatera. Kerusakan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) di Aceh dan Sumut disebut sebagai salah satu pemicu meningkatnya risiko bencana.
Program rehabilitasi lahan kritis dan reforestasi dinilai mendesak dilakukan untuk mencegah bencana serupa terulang.
Masyarakat Diminta Waspada Cuaca Ekstrem
BMKG memperkirakan potensi cuaca ekstrem masih akan berlangsung hingga akhir tahun 2025. Masyarakat di wilayah rawan diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti instruksi aparat setempat.
Hingga saat ini, pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat masih berfokus pada penyelamatan korban, pembukaan akses, dan pemulihan kondisi pascabencana.




